100 hari wafatnya Habib Alwi bin Salim Alkaff

 
13 Januari 2012-(19 Shafar 1433 H )/ 22 April 2012 ( 30 Jumadil Awal 1433 H )
 

Abahku

Habib Alwi bin Salim Alkaff

berpulang kerahmatullah.

رَبِّاغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

ROBBIGH FIRLI WA LIWALIDAYYA

Artinya : “Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28)Lahir : Palembang 1933Wafat : 13 Januari 2012 (19 Shafar 1433 H )

Hari : Jum;at

Jam : 14.00 WIB

&

Hj.Syarifah Aminah binti Hassan Alkaff

Lahir : BandungWafat : 22 September 2004 ( 7 Sya’ban 1425 H )Hari : Rabu

Jam : 1.30 WIB

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Al Habib ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur)

Al Habib ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur)

 Al Habib ali bin Husein Al-Attas (Habib Ali Bungur) : Right

Habib ali bin Husein Al-Attas, yang lebih dikenal dengan sebutan Habib Ali Bungur, beliau memiliki jasa yang sangat besar dalm menorehkan jejak dakwah dikalangan masyarakat Betawi.
Nasab beliau: Habib Ali bin Husen bin Muhammad bin Husein bin Ja`far bin Muhammad bin ali bin Husein bin Al Habib Al Qutub Umar bin Abdurrahman Al Attas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assaqof bin Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala` Qasam bin alwi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al `Uraidhi bin Ja`far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahra binti Rasulullah SAW.
Beliau lahir di Huraidhah, Hadramaut, 1 Muharam 1309 H, bertepatan dengan 1889 M. Semenjak usia 6 Tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman Kepada para ulama dan auliya yang hidup di Hadramaut saat itu. Sebagaimana jejak langkah generasi pendahulunya, setelah mendalami agama yang cukup di Hadramaut, pada tahun 1912 M, beliau pergi ketanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta berziarah ke makam datuk nya Rasulullah SAW di Madinah., disana beliau menetap di Makkah. Hari-Hari beliau dipergunakan untuk menimba ilmu Kepada para ulama yang berada di Hijaz. Setelah 4 tahun beliau kembali ke Huraidhah dan mengajar disana selama 3 tahun. (Tak banyak sejarawan yang menulis perjalanan beliau hinga kemudian tiba di Jakarta). Guru beliau setelah menetap di Jakarta: Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas(Empang, Bogor), Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Attas (Pekalongan), Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsy (Surabaya) dan Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor (Bondowoso).
Di daerah Cikini beliau tinggal, sebuah kampung yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, beliau tinggal bersama-sama rakyat jelata dan setiap orang yang menganal beliau akan berkata “Hidupnya sederhana, tawadhu`, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, mendalam dibidang ilmu pengetahuan, luas dalam pemikiran, tidak membedakan antara kaya dan miskin, mendorong terbentuknya Negara Indonesia yanga bersatu, utuh serta berdaulat, tidak segan-segan menegur para pejabat yang mendatannginya da selalu menyampaikan agar jurang pemisah antara pemimpin dan rakyat dihilangkan dan rakyat mesti dicintai”. Hal inilah yang menyababkan rakyat mencintai Al Habib Ali bin Husein Al Attas. Semasa hidupnya beliau tak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam berdakwah. Salah satu karya terbesar beliau adalah “Tajul A`ras fi Manaqib Al Qutub Al Habib Sholeh bin Abdullah Al Attas”, sebuah kitab sejarah para ulama Hadramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadramaut hingga sekilas pejalanan para ulama Hadramaut ke Indonesia. Buku itu juga berisi beberapa kandungan ilmu Tasawuf dan Thariqah Alawiyah. Semasa hidupnya Habib Ali selalu berjuang membela umat, kesederhanaan serta Istiqamahnya dalam mempraktekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari- hari menjadi tauladan yang baik bagi umat. Beliau selalu mengajarkan dan mempraktekkan bahwa islam mengajak umat dari kegelapan pada cahaya yang terang, membawa dari taraf kemiskinan Kepada taraf keadilan dan kemakmuran.
Pada 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi, Habib Ali bin Husein Al Attas wafat dalam usia 88 tahun, beliau dimakam pada 17 Februari 1976, di pemakaman Al Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur.
Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Habib Ali Kwitang

Habib Ali Kwitang (lahir di Jakarta, 20 April 1870 – meninggal di Jakarta, 13 Oktober 1968 pada umur 98 tahun) adalah salah seorang tokoh penyiar agama Islam tedepan di Jakarta pada abad 20. Ia juga pendiri dan pimpinan pertama pengajian Majelis Taklim Kwitang yang merupakan satu cikal-bakal organisasi-organisasi keagaaman lainnya di Jakarta.

Riwayat Hidup

Masa Kecil

Ia dilahirkan di daerah Kwitang, Jakarta (lahir di Jakarta, Jakarta, 20 April 1870 – meninggal di Jakarta, 13 Oktober 1968 pada umur 98 tahun) bertepatan dengan tanggal hijriah 20 Jumadil Awwal 1286 H dari pasangan Abdurrahman bin Abdullah Alhabsyi dan Salmah. Ayahnya adalah seorang ulama dan da’i keturunan arab sayyid yang hidup zuhud, sementara ibunya adalah seorang wanita sholehah puteri seorang ulama Betawi dari Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.[rujukan?]. Ayahnya meninggal dunia saat Ali dalam usia kecil.

Ketika usianya mencapai sekitar 11 tahun, ia berangkat ke Hadramaut untuk belajar agama. Tempat pertama yang ditujunya ialah ke rubath Habib ‘Abdur Rahman bin ‘Alwi al-’Aydrus. Di sana beliau menekuni belajar dengan para ulamanya, antara yang menjadi gurunya ialah Shohibul Maulid Habib ‘Ali bin Muhammad al-Habsyi, Habib Hasan bin Ahmad al-’Aydrus, Habib Zain bin ‘Alwi Ba’Abud, Habib Ahmad bin Hasan al-’Aththas dan Syaikh Hasan bin ‘Awadh. Beliau juga berkesempatan ke al-Haramain dan meneguk ilmu daripada ulama di sana, antara gurunya di sana adalah Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi (Mufti Makkah), Sayyid Abu Bakar al-Bakri Syatha ad-Dimyati, (pengarang I’aanathuth Thoolibiin yang masyhur) Syaikh Muhammad Said Babsail, Syaikh ‘Umar Hamda.

Masa Muda dan Tua

Habib Ali menunaikan haji 3 kali. Pertama tahun 1311 H/1894 M pada masa Syarif Aun, kedua tahun 1343 H/1925 M pada masa Syarif Husein, dan ketiga tahun 1354 H/1936 M pada masa Ibnu Saud dan pergi ke Madinah 2 kali.

Ia mulai melaksanakan maulid akhir Kamis bulan Rabiul Awwal setelah wafatnya Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi sejak tahun 1338 H/1920 M sampai 1355 H/1937 M di madrasah Jamiat Kheir.

Dalam rangka memantapkan tugas dakwahnya, Habib Ali membangun Masjid ar-Riyadh tahun 1940-an di Kwitang serta di samping masjid tersebut didirikannya sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Unwanul Falah. Tanah yang digunakan untuk membangun masjid tersebut merupakan wakaf yang sebagian diberikan oleh seorang betawi bernama Haji Jaelani (Mad Jaelani) asal Kwitang[1]. Banyak ulama betawi atau Jakarta yang pernah menjadi muridnya atau pernah belajar di madrasah yang didirikannya. Di antara muridnya yang terkenal adalah K.H. ‘Abdullah Syafi’i (pendiri majlis taklim Assyafi’iyah, K.H. Thahir Rohili (pendiri majlis taklim Atthohiriyah dan K.H. Fathullah Harun (ayah dari Dr. Musa Fathullah Harun, seorang bekas pensyarah UKM).

Saat meninggalnya Habib Ali, stasiun penyiaran TV satu-satunya Indonesia saat itu, TVRI, menyiarkan berita wafatnya.[2] Habib Salim bin Jindan membaiat putera Habib Ali yang bernama Muhammad untuk meneruskan perjuangan keagamaan yang dilakukan ayahnya.

Putera sulungnya yang bernama Abdurrahman mengawini seorang wanita keturunan belanda bernama Maria Van Engels[3] yang lalu masuk islam dan mengubah namanya menjadi mariam.

Karier dan Dakwah

Pengajian Habib Ali Kwitang di zaman Jepang.

Selain menuntut ilmu, Ia juga aktif dalam mengembangkan dakwah Islamiyyah, mengajak umat Islam untuk mengikuti ajaran-ajaran Islam dengan dasar cinta kepada Allah dan Muhammad SAW. Selain di pengajian tetap di Majlis Taklim Kwitang yang diadakan setiap hari Minggu pagi sejak kurang lebih 70 tahun yang lalu hingga sekarang dengan kunjungan umat Islam yang berpuluh-puluh ribu, ia juga aktif menjalankan dakwah di lain-lain tempat di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke desa-desa yang terpencil di lereng-lereng gunung.

Selain itu Habib Ali juga berdakwah ke Singapura, Malaysia, India, Pakistan, Srilangka dan Mesir. Selain itu beliau juga sempat menulis beberapa kitab, di antaranya Al-Azhar Al-Wardiyyah fi As-Shuurah An-Nabawiyyah dan Ad-Durar fi As-Shalawat ala Khair Al-Bariyyah [4]

Menurut Muhammad Asad, penulis lebih dari 20 buku yang terbit di Timur Tengah yang puluhan tahun mengenal Habib Ali, menilai, bahwa majelis taklimnya dapat bertahan selama lebih dari satu abad karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berlandaskan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlakul karimah. Ia juga menjelaskan bahwa ajaran dakwah Habib Alwi berupa pelatihan kebersihan jiwa, tasauf mu’tabarah dan dialog antara makhluk dengan al-Khalik serta antara sesama mahluk. Habib Ali tidak pernah menglajarkan ideologi kebencian, iri, dengki, ghibah, fitnah dan namimah. Sebaliknya, Habib Ali mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari keluarga ahlul bait yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusian, menghormati hak-hak setiap manusia tanpa membedakan manusia atas latarbelakang status sosial mereka.

 

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

HABIB ALWI BIN SALIM BIN ABDURRAHMAN ALKAFF

HABIB ALWI BIN SALIM BIN ABDURRAHMAN ALKAFF

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Menuntut Ilmu … Wajib Setiap Muslim

Setiap muslim wajib menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya dalam Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Orang-orang yang berilmu akan pula dimudahkan jalannya ke syurga oleh Allah dan senantiasa didoakan oleh para malaikat.

Sebenarnya ilmu hanyalah merupakan suatu alat untuk mendektkan diri kita kepada Allah. Adapun fungsi ilmu itu antara lain adalah :

1. Sebagai petunjuk keimanan (QS. 22:54, 3:7, 35:28)

2. Sebagai petunjuk beramal

“Seorang alim (berilmu)dengan ilmunya dan amal perbuatannya akan berada di dalam syurga, maka apabila seseorang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu dan amalnya akan berada di dalam syurga, sedangkan dirinya akan berada dalam neraka” (HR. Daiylami)

(Ingat pula kisah Sayyidina Ali r.a. ketika disuruh memilih antara harta dan ilmu)

Keutamaan manusia dari makhluk Allah lainnya terletak pada ilmunya. Allah bahkan menyuruh para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yang dimilikinya. Cara kita bersyukur atas keutamaan yang Allah berikan kepada kita adalah dengan menggunakan segala potensi yang ada pada diri kita untuk Allah atau di jalan Allah.

Keutamaan Menuntut Ilmu

Keutamaan menuntut ilmu dapat kita lihat pada kisah Imam Syafiiy

Yang mulia Imam Syafiiy dilahirkan pada bulan Rajab tahun 150 H (767 M) di Ghazab dalam keadaan yatim. Pada usia 2 tahun Imam Syafiiy dibawa oleh ibunya ke Mekkah, tempat kelahiran ayahnya. Beliau hidup di bawah asuhan ibunya dalam penghidupan dan kehidupan yang sangat sederhana dan kadang-kadang menderita kesulitan. Walaupun demikian ketika baru berusia sembilan tahun, beliau sudah hafal Al-Qur‘an sebanyak 30 juzz di luar kepala dengan lancar. Pada usia ke sepuluh tahun beliau sudah hafal dan mengerti Al Muwaththa‘ Imam Maliky.

Imam Syafiiy sangat rajin dan tekun menuntut ilmu, walaupun sering menderita kesukaran dan kekurangan untuk membeli alat-alat perlengkapan belajar seperti kertas, tinta, dan sebagainya. Namun karena semangatnya yang tinggi maka beliau sering mencari tulang-tulang dan mengumpulkannya dari jalanan untuk ditulis di atasnya pelajaran yang diperoleh atau mencari kertas bekas untuk menulis. Catatan beliau sangat banyak sampai memenuhi gubuk sehingga beliau tidak bisa tidur berbaring karena gubuknya sudah penuh sesak. Akhirnya beliaui mencoba menghafalkan semua catatan yang telah ada sehingga semuanya terekam dalam hati dan tercatat dalam otak. Syairnya yang terkenal berbunyi :

“Ilmuku selalu bersamaku ke mana aku pergi

Kalbuku yang telah menjadi gudangnya dan bukan lagi peti-peti

Bila aku berada di rumah, ilmuku pun bersamaku pula di rumah

Dan bila aku di pasar, ilmuku pun berada di pasar”

Beliau belajar dari banyak guru, tidak pernah merasa cukup akan ilmu yang dimilikinya, selalu haus akan ilmu, dan bila mendengar ada ilmu baru maka beliau akan mengejarnya walaupun harus menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Beliau telah diberi izin untuk mengajar dan memberi fatwa kepada khalayak ramai dan diberi jabatan sebagai guru besar di dalam Masjidil Haram karena kepintarannya tersebut, walaupun usianya masih muda sekali yaitu 15 tahun. Imam Syafiiy dihormati baik oleh pengusaha negeri maupun masyarakat awam yang berada di tempat beliau tinggal karena keluhuran dan ketinggian ilmunya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mujaadilah ayat 11, maka telah terbukti bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu sebagai keutamaan mereka karena tidak jemu-jemunya menuntut ilmu baik itu ilmu pengetahuan maupun ilmu agama.

Allah memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang berilmu dengan memberikan berbagai keutamaan kepada mereka seperti yang tercantum dalam:

1. “Sebaik-baik umatku adalah ulama dan sebaik-baik ulama adalah yang berkasih sayang. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah akan mengampuni orang alim sebanyak 40 dosa dan setelah itu Allah mengampuni 1 dosa orang bodoh.”

2. “Dan ingatlah orang alim yang rahim (kasih sayang) akan datang pada hari kiamat dengan bercahaya dan akan menerangi antara barat dan timur seperti terangnya bulan purnama.”

3. “Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama hamba-Nya mau menolong saudaranya. Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu pasti Allah memudahkan baginya jalan untuk ke syurga. Dan apabila berkumpul suatu kaum di suatu rumah dari rumah-rumah Allah (mesjid) dengan membaca Al-Qur`an dan mempelajarinya sesama mereka maka niscaya turun atas mereka ketentraman dan mereka diliputi rahmat dan dikelilingi para malaikat dan Allah menyebutnya dalam golongan yang adapada-Nya. Dan barangsiapa yang lambat amalnya maka tidak akan dipercepat diangkat derajatnya.”

4. “Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke syurga” (HR. Muslim).

5. “Barangsiapa memberikan petunjuk kebaikan maka baginya akan mendapatkan ganjaran seperti ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikit pun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).

6. “Jika anak Adam telah meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal:

1) Ilmu yang bermanfaat

2) Sedekah jariyah

3) Anak Shaleh yang mendoakan kedua orang tuanya” (HR. Muslim).

7. “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk diberi kebaikan maka orang itu lalu memperdalam agama Islam” (HR. Bukhari-Muslim).

Adab Menuntut Ilmu

Dalam menuntut ilmu perlu diperhatikan beberapa adab, yaitu :

1. Niat

Niat dalam menuntut ilmu adalah untuk mencari ridho Allah. Hendaknya diringi dengan hati yang ikhlas benar-benar karena Allah. Bukan untuk menyombongkan diri, menipu orang lain ataupun pamer kepandaian, tetapi untuk mengeluarkan diri dari kebodohan dan menjadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain.

2. Bersungguh-sungguh

Dalam menuntut ilmu haruslah bersungguh-sungguh dan tidak pernah berhenti. Allah mengisyaratkan dalam firman-Nya yang berbunyi : “Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami pastilah akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan Kami.”

3. Terus-menerus

Hendaklah kita jangan mudah puas atas ilmu yang kita dapatkan sehingga kita enggan untuk mencari lebih banyak lagi. Seperti pepatah yang disampaikan oleh Sofyan bin Ayyinah : “Seseorang akan tetap pandai selama dia menuntut ilmu. Namun jika ia menganggap dirinya telah berilmu (cepat puas) maka berarti ia bodoh.” Allah lebih menyukai amalan yang sedikit tapi dilakukan secara terus menerus dibandingkan amalan yang banyak tetapi hanya dilakukan sehari saja.

4. Sabar dalam menuntut Ilmu

Salah satu kesabaran terpuji yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu adalah sabar terhadap gurunya seperti kisah Nabi Musa as dan Nabi Khidr as (QS Al Kahfi : 66-70). Kita jangan cepat putus asa dalam menuntut ilmu jika mendapatkan kesulitan dalam memahami dan mempelajari ilmu. Allah tidak menyukai orang yang berputus asa dari rahmat-Nya seperti firman-Nya ……(?)

5. Menghormati dan memuliakan orang yang menyampaikan ilmu kepada kita

Di antara penghormatan murid terhadap gurunya adalah berdiam diri maupun bertanya pada saat yang tepat dan tidak memotong pembicaraan guru, mendengarkan dengan penuh khidmat, dan memperhatikan ketika beliau menerangkan, dan sebagainya.

6. Baik dalam bertanya

Bertanya hendaknya untuk menghilangkan keraguan dan kebodohan diri kita, bukan untuk meremehkan, menjebak, mengetes, mempermalukan guru kita dan sebagainya.l Aisyah ra tidak pernah mendengar sesuatu yang belum diketahuinya melainkan sampai beliau mengerti. Orang yang tidak mau bertanya berarti menyia-nyiakan ilmu yang banyak bagi dirinya sendiri. Allah pun memerintahkan kita untuk bertanya kepada orang yang berilmu seperti dalam firman-Nya dalam QS 16:43.

Kondisi Keilmuan

Keadaan saat ini sudah tidak sesuai lagi dengan apa yang diharapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di mana-mana orang-orang sudah terlalu mengagung-agungkan dunia. Ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan untuk kepentingan dunia dan dirinya sendiri tanpa memperhatikan keseimbangan dan keselarasan lingkungan di sekitarnya. Bahkan penjelajahan ke planet mars saja selain untuk ilmu pengetahuan juga untuk mencari kemungkinan apakah di sana dapat ditempati oleh manusia. Memang sungguh serakah manusia-manusia ini.

Kewajiban menuntut ilmu tidak hanya mengenai ilmu pengetahuan umum saja tetapi juga ilmu pengetahuan agama yang hukumnya fardlu ‘ain, karena beramal tanpa berilmu sama saja dengan bohong dan tidak ada artinya di mata Allah. Maka jika salah, kita dapat terjerumus ke perbuatan dosa. Umat Islam juga tidak boleh ketinggalan dalam hal ilmu pengetahuan dan tidak boleh pula menjadi orang yang bodoh karena orang pintar akan lebih disenangi. Dengan kepinteran yang kita miliki, kita tidak akan mudah ditipu dan dibohongi orang lain. Imam Syafiiy sendiri selalu merasa kurang akan ilmu yang dimilikinya dan selalu mencatat setiap ilmu yang diperolehnya karena takut lupa.

Beberapa ilmuwan Islam antara lain yaitu :

a. Jabir bin Hayyan (720-815 M)

Beliau adalah seorang sarjana Fisika dan Kedokteran. Karyanya mencapai 200 buah, di antaranya adalah tentang kimia yang antaa lain “Al-Khawasul Kabir” dan “MA Ba`dal Thabi`ah”. Ilmu kimia Jabir telah dianggap sejajar dengan Aristoteles dalam ilmu logika.

b. Al Khawarizmy, Muhammad bin Musa Al Khawarizmy (780-850 M)

Beliau adalah ahli aljabar dan ilmu bumi. Karyanya yang menjadi referensi berbagai tulisan tentang ilmu bumi, yaitu “Suratul Ardli”.

c. Al-Farghaniy, Abul Abbas Ahmad Al-Farghaniy (hidup sekitar tahun 861 M)

Beliau adalah seorang ahli perbintangan/astronomi. Karyanya antara lain adalah “Al Madkhal Ila Ilmi Haiatil Fabik” yang sudah diterjemahkan ke bahasa latin.

d. Al-Bhairuniy, Abduraihani Muhammad bin Ahmad (937-1048 M)

Beliau adalah ahli kedokteran, perbintangan, matematika, fisika, ilmu bumi dan sejarah. Karyanya antara lain adalah “At-Tafhim Li Awaili Shima’atit Tanjim” yang berisi tentang Tanya jawab ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan, dan ilmu falak.
sumber ;mentoringku.wordpress.com/…/menuntut-ilmu-wajib-setiap-muslim/

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Ucapkanlah Jazakallahu Khairan

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

من صنع إليه معروف فقال لفاعله: جزاك اللَّه خيراً، فقد أبلغ في الثناء

 

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

 

Takhrij Hadits:
Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Al Bir was Shilah (2035) dan Ath Thabrani dalam Ash Shaghir (148/2)

 

Syarah:

 

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

 

“Barangsiapa yang diberikan sesuatu kebaikan, maka hendaknya dia ucapkan ‘Jazakallahu khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu)’ kepada orang yang memberi kebaikan. Sungguh hal yang demikan telah bersungguh-sungguh dalam berterimakasih.”

 

Apabila seseorang memberikan sebuah kebaikan kepadamu dengan harta, bantuan, atau ilmu atau yang selain itu, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membalas kebaikan tersebut.

 

Beliau juga bersabda,

 

“Barangsiapa yang memberikan kebaikan kepadamu maka balaslah (kebaikan tersebut)”

 

Maka balasan ini sesuai dengan kondisinya. Ada orang yang balasan kebaikannya dengan engkau berikan sesuatu yang sama dengan apa yang dia berikan sebelumnya, atau bahkan lebih banyak. Ada pula yang orang yang balasannya engkau mendoakan kebaikan baginya, dan dia tidak ingin engkau balas dengan harta.

 

Orang yang sudah tua, memiliki banyak harta, dermawan, memiliki status sosial di masyarakat, jika dia menghadiahkan sesuatu kepadamu, lalu engkau balas memberi hadiah yang sama dengan hadiah pemberiannya, maka dia akan melihat ini sebagai sikap perendahan bagi dirinya.

 

Akan tetapi bila terjadi yang seperti ini, berdoalah kepada Allah untuknya. Apabila kalian tidak menemukan sesuatu yang pantas untuk membalas kebaikannya, maka doakan dia sampai kalian lihat kalian telah membalasnya. Dan dari doa ini adalah ucapan kalian,

 

جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا

 

“Semoga Allah membalas kebaikanmu”

 

Jika dia memberikan sebuah kebaikan, manfaat kepadamu, maka ketika engkau ucapkan jazakallahu khairan engkau telah bersungguh-sungguh dalam memuji. Hal ini karena jika Allah membalas seseorang dengan kebaikan, itu merupakan kebahagiaan baginya di dunia dan akhirat.

 

dari Syarah Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin

 

PS:
Apabila ucapan tersebut ditujukan kepada wanita, maka dhamir (kata gantinya) diubah menjadi:

 

جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا

 

“Jazakillahu khairan”

 

Apabila ditujukan kepada sekumpulan orang, maka gantilah dengan:

 

جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا

 

“Jazakumullahu khairan”

 

Oleh: Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

Categories: Uncategorized | Tags: | Leave a comment

Genap 40 hari Habib Alwi bin Salim Alkaff

                            Genap 40 hari -13 Januari 2012-(19 Shafar 1433 H )
                                   22 Februari 2012 /29 Rabi’ul awal 1433 H

Abahku

Habib Alwi bin Salim Alkaff

berpulang kerahmatullah.

رَبِّاغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ

ROBBIGH FIRLI WA LIWALIDAYYA

Artinya : “Tuhanku! ampunilah Aku, ibu bapakku.” (QS. Nuh : 28)

Lahir : Palembang 1933

Wafat : 13 Januari 2012 (19 Shafar 1433 H )

                                                                   Hari : Jum;at

Jam : 14.00 WIB

&

Hj.Syarifah Aminah binti Hassan Alkaff

Lahir : Bandung

Wafat : 22 September 2004 ( 7 Sya’ban 1425 H )

Hari : Rabu

Jam : 1.30 WIB

Categories: Uncategorized | Tags: | 2 Comments

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

Categories: Uncategorized | Tags: , , | Leave a comment

Marga Arab Hadramaut

Marga Arab Hadramaut (Fam Arab) merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai oleh keturunan bangsa Arab, yang berasal dari daerah Hadramaut di Yaman, yang letaknya di Jazirah Arab bagian selatan. Penamaan marga sendiri dipilih berdasarkan Qabilah, tempat asal, sejarah, kebiasaan atau sifat serta nama nenek moyang golongan tersebut.

Berdasarkan asalnya, marga Arab Hadramaut umumnya dapat dibagi menjadi dua golongan. Golongan pertama yaitu marga-marga keturunan suku Arab Yaman asli yang mengklain keturunan Hadhramaut bin Gahtan, yang merupakan keturunan dari Nabi Nuh, dan golongan kedua yang biasa disebut Alawiyyin yaitu marga-marga suku Arab pendatang dari Persia yang mengklaim keturunan Nabi Muhammad melalui jalur Ahmad bin Isa al-Muhajir, yang hijrah ke Yaman sekitar tahun 319 H (898 M).

Koloni Arab dari Hadramaut diperkirakan telah datang ke Indonesia sejak abad ke-13. Sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah, misalnya seperti “Basyeiban” dan “Haneman”, di Indonesia masih dapat ditemukan. Hal ini karena keturunan Arab Hadramaut di Indonesia saat ini diperkirakan jumlahnya lebih besar daripada di tempat leluhurnya sendiri.

Daftar di bawah ini memuat beberapa marga Arab Hadramaut. Anda dapat membantu melengkapinya.

Marga Arab Hadramaut

A

  • Abbad
  • Abdat
  • Abudan
  • Abunumay
  • Aglag
  • Al Abd Baqi
  • Al Aidid
  • Al Ali Al Hajj
  • Al Amar
  • Al Amudi
  • Al Amri
  • Al Anggawi
  • Al As
  • Al Audah
  • Al Aulagi
  • Al Aydrus
  • Al Ba Abud
  • Al Ba Faraj
  • Al Ba Harun
  • Al Ba Raqbah
  • Al Baar
  • Al Bagdadi
  • Al Bahar
  • Al Baiti
  • Al Bajrai
  • Al Bakri
  • Al Bal Faqih
  • Al Baldjoen
  • Al Balghaist
  • Al Balgon
  • Al Bantan
  • Al Bantani
  • Al Barak
  • Al Bargi
  • Al Barhim
  • Al Batati
  • Al Bawahab
  • Al Bawazier
  • Al Bin Jindan
  • Al Bin Sahal
  • Al Bin Semit
  • Al Bin Yahya
  • Al Bintan
  • Al Bintani
  • Al Bukkar
  • Al Damis
  • Al Djoen
  • Al Dzeban
  • Al Fad’aq
  • Al Fagih
  • Al Falugah
  • Al Faris
  • Al Fariz
  • Al Gaiti
  • Al Gon
  • Al Habsyie
  • Al Haddad
  • Al Hadi
  • Al Hadromi
  • Al Hajri
  • Al Halagi
  • Al Hamid
  • Al Hasani
  • Al Hassan
  • Al Hasyim
  • Al Hilabi
  • Al Hinduan
  • Al Huraibi
  • Al Jabri
  • Al Jaidi
  • Al Jailani
  • Al Jamalulail
  • Al Jon
  • Al Jufrie
  • Al Jun
  • Al Junaid
  • Al Jundi
  • Al Kaff
  • Al Kalali
  • Al Kalilah
  • Al Katiri
  • Al Khamis
  • Al Khatbah
  • Al Khatib
  • Al Kherid
  • Al Khubais
  • Al Madhir
  • Al Mahdali
  • Al Mahfuzh
  • Al Makky
  • Al Mathar
  • Al Matrif
  • Al Maula Dawilah
  • Al Maula Khailah
  • Al Mesfer
  • Al Muchdor
  • Al Muhaddam
  • Al Munawwar
  • Al Musawa
  • Al Mutahhar
  • Al Naqieb
  • Al Qaiti
  • Al Qannas
  • Al Rubaki
  • Al Sa’ari/ As-Sa’ari
  • Al Safi/ As-Safi
  • Al Wynni
  • Al Yafei
  • Al Yafi’ie
  • Al Yamani
  • Alabeid
  • Al-Attas/ Alatas/Alatthas
  • Algadri/ Al Qadri
  • Alhasien
  • Alisalim
  • Al-Kaff
  • Ambadar
  • Arfan
  • Arghubi
  • Askar
  • Assa’di
  • Assaili
  • Assegaf
  • Assewed
  • Assidawi
  • Assiry
  • Assyabibi
  • Assyaiban
  • Assyiblie
  • Asy Syaarfi
  • Attamimi
  • Attanfirah
  • Attuwi
  • Azmatkhan
  • Azzagladi

B

  • Ba Abduh
  • Ba Abdullah
  • Ba Akabah
  • Ba Agil
  • Ba Attiiyah
  • Ba Atwa
  • Ba Awadh
  • Ba Birik
  • Ba Dekuk
  • Ba Faqih
  • Ba Gabas
  • Ba Harun
  • Ba Jabir
  • Ba Jamin
  • Ba Jammal
  • Ba Jasir
  • Ba Jeber
  • Ba Joban
  • Ba Kheiri
  • Ba Nahsan
  • Ba Qashir
  • Ba Sendit
  • Ba Sidawi
  • Ba Siul
  • Ba Surroh
  • Ba Syaib
  • Ba Tebah
  • Ba Zara
  • Ba Zar’ah
  • Ba Zouw
  • Baadilla
  • Ba’asyir
  • Ba’bud
  • Babadan
  • Babheir
  • Babsel
  • Babten
  • Babgei
  • Bachamis
  • Bachmid
  • Bachmid
  • Bachrak
  • Badegel
  • Badeges
  • Badhawie
  • Ba’Dib
  • Badjideh
  • Ba’dokh
  • Badres
  • Badubah
  • Badziher
  • Badzinjan
  • Bafadhal
  • Bafana
  • Bafeel
  • Bagadir
  • Bagaramah
  • Bagarib
  • Bagges
  • Bagoats
  • Bahadik
  • Bahafdullah
  • Bahaiyan
  • Bahaj
  • Bahalwan
  • Bahanan
  • Baharmus
  • Baharthah
  • Bahfen
  • Bahman
  • Bahroh
  • Bahsen
  • Bahsowan
  • Bahwal
  • Bahweres
  • Baisa
  • Bajabir
  • Bajammal
  • Bajened
  • Bajrei
  • Bajruk
  • Bajuber
  • Bakarman
  • Bakhabazi
  • Bakouba
  • Bakrisyuk
  • Baksir
  • Baktal
  • Baktir
  • Bal Afif
  • Baladraf
  • Baladraf
  • Balahjam
  • Balahmar
  • Bala’mas
  • Balasga
  • Balaswad
  • Balaswat
  • Balasyrof
  • Balbeid
  • Balfas
  • Balghaits
  • Balgon
  • Baljon
  • Baljun
  • Balu’lu’
  • Balweel
  • Bamagain
  • Bamaisarah
  • Bamajbur
  • Bamakundu
  • Bamasak
  • Bamasri
  • Bamatraf
  • Bamatrus
  • Bamazro
  • Bamu’min
  • Banaemun
  • Banahsan
  • Banafe
  • Bana’mah
  • Banser
  • Baraba
  • Barabud
  • Baraja
  • Barakwan
  • Barasy
  • Barawas
  • Barekat
  • Bareyek
  • Baridwan
  • Barjib
  • Baruk
  • Basagili
  • Basakran
  • Basalamah
  • Basalim
  • Basalmah
  • Basamkho
  • Basawat
  • Basbeth
  • Basgefan
  • Bashandid
  • Bashay
  • Basilim
  • Ba’sin
  • Baslamah
  • Baslum
  • Basymeleh
  • Basofi
  • Basulaileh
  • Basumbul
  • Baswedan
  • Baswel
  • Baswer
  • Basyahroh
  • BaSyaiban
  • Basyarahil
  • Basyrewan
  • Batarfi
  • Batates
  • Batelo
  • Bathef
  • Bathog
  • Ba’Tuk
  • Baweel
  • Bayahayya
  • Bayasut
  • Bayusuf
  • Bazandokh
  • Bazargan
  • Bazeid
  • Bazmul
  • Bazubbak
  • Beik
  • Billahwal
  • Bilfaqih
  • Bin Abad
  • Bin Abd Samad
  • Bin Abdat
  • Bin Abied
  • Bin Abdul Aziz
  • Bin Abri
  • Bin Addar
  • Bin Afif
  • Bin Agil
  • Bin Ajjaj
  • Bin Al
  • Bin Amri
  • Bin Amrun
  • Bin Anuz
  • Bin Baldjoen
  • Bin Balgon
  • Bin Baljon
  • Bin Baljun
  • Bin Bisir
  • Bin Bugri
  • Bin Coger
  • Bin Dahdah
  • Bin Dawil
  • Bin Diab
  • Bin Duwais
  • Bin Dzeban
  • Bin Eda
  • Bin Elly
  • Bin Faris
  • Bin Gannas
  • Bin Gasir
  • Bin Gaus
  • Bin Ghanim
  • Bin Ghozi
  • Bin Ghubaisy
  • Bin Gozan
  • Bin Guddeh
  • Bin Guriyyib
  • Bin Hadzir
  • Bin Hafidz
  • Bin Halabi
  • Bin Hamid
  • Bin Hana
  • Bin Hassan
  • Bin Hatrash
  • Bin Hizam
  • Bin Hud
  • Bin Humam
  • Bin Huwel
  • Bin Harris
  • Bin Ibadi
  • Bin Isa
  • Bin Ishaq
  • Bin Jabal
  • Bin Jaber
  • Bin Jaidi
  • Bin Jindan
  • Bin Jaubah
  • Bin Jubair/ Bin Juber
  • Bin Kartam
  • Bin Kartim
  • Bin Keleb
  • Bin Khalifa
  • Bin Khamis
  • Bin Khatbah
  • Bin Khubran
  • Bin Kuddah
  • Bin Madhi
  • Bin Mahfuzh
  • Bin Mahri
  • Bin Makki
  • Bin Maretan
  • Bin Marta
  • Bin Mattasy
  • Bin Ma’tub
  • Bin Mazham
  • Bin Mesfer
  • Bin Misfir
  • Bin Misfir
  • Bin Muchosin
  • Bin Muhammad
  • Bin Munif
  • Bin Mutahar
  • Bin Mutliq
  • Bin Nahdi
  • Bin Nahed
  • Bin Nub
  • Bin On
  • Bin Qarmus
  • Bin Quthban
  • Bin Radjab
  • Bin Sadi
  • Bin Said
  • Bin Salim
  • Bin Sanad
  • Bin Sef
  • Bin Seger
  • Bin Seif
  • Bin Silim/ Bin Syilim/ Bin Soelim
  • Bin Suid
  • Bin Sungkar
  • Bin Syahbal
  • Bin Syaiban
  • Bin Syamil
  • Bin Syamlan
  • Bin Syech Abu Bakar
  • Bin Syirman
  • Bin Syuaib
  • Bin Tahar
  • Bin Ta’lab
  • Bin Tayeb
  • Bin Tebe
  • Bin Thahir
  • Bin Thalib
  • Bin Tsabit
  • Bin Ulus
  • Bin Umar
  • Bin Usman
  • Bin Wahab
  • Bin Wizer
  • Bin Zagr
  • Bin Zaidan
  • Bin Zaidi
  • Bin Zimah
  • Bin Zoo
  • Bukhori
  • Bukkar

D

  • Djibran
  • Djobban
  • Doman

E

  • Elly

F

  • Falhum
  • Falogah

G

  • Gadneh/ Gitnah/ Gathneh’
  • Ganesy
  • Ghana'(?)
  • Gemayyel
  • Ghaniem
  • Gisymar
  • Gurdusy

H

  • Hablil
  • Haddad
  • Haidrah
  • Halfan
  • Hallaboh
  • Hamadah
  • Hamde
  • Hamzah
  • Harharah
  • Harris
  • Haraz
  • Hasni
  • Hasny
  • Hansyi
  • Hatrash
  • Hayaze
  • Hendan
  • Hilaby/ Hilabi
  • Hijazee
  • Hizam
  • Hubeisy
  • Humaid
  • Huraiby

J

  • Jabli
  • Jaidi
  • Jawwas
  • Jibran
  • Jurhum

K

  • Karamah
  • Karaman
  • Ka’wileh
  • Kuddah
  • Kuffan
  • Kurbi

L

  • Lahji
  • Lahmadi
  • kharie

M

  • Machdan
  • Madhi
  • Madsyal
  • Magadh
  • Mahbub
  • Mahdami
  • Makarim
  • Marbasy
  • Marfadi
  • Martak
  • Mashabi
  • Maulachela
  • Maziun
  • Mesfer
  • Miftah
  • Mubarak
  • Mugezeh
  • Mugheneh
  • Mukarram
  • Mukhasyin
  • Munabari
  • Muntahar

N

  • Nabhan
  • Nagib
  • Nahdi

S

  • Sabaya
  • Sabbah
  • Sallum
  • Shahab
  • Shahabi
  • Shegeir
  • Sungkar
  • Sumaith/ Smith
  • Surur
  • Swedan
  • Syabibi
  • Syagran
  • Syaiban
  • Syakieb
  • Syamlan/ Shamlan
  • Syammach
  • Syawie
  • Syawik

T

  • Tarmum
  • Thebe
  • Thalib

U

  • Ubaidun
  • Ubidun
  • Ugbah
  • Ummayyer

W

  • Wahdin
  • Wakid

Z

  • Za’bal
  • Zabde
  • Zabidi
  • Zakin
  • Zeban
  • Zeger
  • (Az) Zubaidi
  • sumber : id.wikipedia.org/wiki/Marga_Arab_Hadramaut
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Alkaff ?

AlKaff yang Serba Cukup Berlabuh di Barabai

NAMA AlKaff pertama kali terbit dari seorang yang bernama Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Abubakar AlJufri.

Berbagai macam versi mengapa Ahmad sampai mendapat gelar AlKaff. Menurut satu keterangan, ketika Ahmad melakukan perjalanan ibadah haji ke Tanah Suci, ia mendapat rintangan di jalan. Ketika melintas di sebuah daerah berbukit, Ahmad dan rombongan jemaah haji mendapati jalan di depan mereka penuh dengan runtuhan (longsoran) batu-batu besar dari bukit. Rombongan tak dapat lewat. Tak ada rombongan yang mampu menyingkirkan batu-batu besar itu, kecuali Ahmad bin Muhammad.

Versi kedua, gara-garanya suatu ketika Ahmad berhasil menaklukkan seseorang jagoan yang mempunyai kekuatan luar biasa. Kekuatan yang luar biasa itu dalam bahasa Hadramaut disebut ‘Kaf’.

Ada lagi versi yang lain tentang lahirnya gelar AlKaff. Dalam suatu berperkara di pengadilan, hakim meminta Ahmad bin Muhammad menuliskan suatu kode. Beliau kemudian menuliskan huruf Kaf, maka sejak itu masyarakat memanggilnya dengan gelar AlKaff.

Versi berikutnya, Ahmad bin Muhammad senang berdo’a menggunakan huruf yang banyak mengandung huruf Kaf.

Do’a tersebut menurut satu keterangan diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW kepada beliau lewat mimpi. Do’a itu berbunyi: “Allah yang mencukupi, telah kudapati kecukupan. Setiap perkara ada yang mencukupi dan telah mencukupi pujian semua itu dari Allah SWT.” Dari sini lantas lahir sebutan AlKaff.

Ahmad bin Muhammad AlKaff dilahirkan di Kota Tarim, Hadramaut, dikaruniai 2 orang anak lelaki bernama Abubakar dan Muhammad. Waliyullah Ahmad bin Muhammad AlKaff wafat di Tarim tahun 911 H (1491 M).

Belakangan, banyak anak keturunan Ahmad bin Muhammad AlKaff yang mampir ke Nusantara. Salah satu daerah yang paling banyak disinggahi adalah Palembang. Kota yang terkenal dengan makanan Mpek-mpek ini pada zamannya merupakan kota transit yang sering disinggahi para saudagar dari Hadramaut dan negeri-negeri jauh lainnya.

Salah satu keturunan AlKaff yang bermukim di Palembang adalah seseorang yang juga bernama Ahmad (sama seperti leluhurnya). Ahmad tetap tinggal di Palembang hingga akhir hayatnya. Anaknya yang bernama Salim dari Palembang kemudian merantau ke Tanah Banjar. Entah bagaimana ceritanya Salim kemudian menetap di Barabai. Kemungkinan besar Salim memiliki famili di Kota Apam ini. Namun, Salim kemudian ‘pulang kampung’ ke tanah kelahirannya di Palembang, dan wafat di sana.

Anak Salim yang bernama Muhammad lahir di kota sejuk yang dulu terkenal dengan sebutan Bandung van Java ini. Muhammad, dikenal dengan panggilan Habib Ci, inilah yang kemudian pindah ke Kampung Sungai Mesa, Banjarmasin.

Kampung Sungai Mesa merupakan kampung tua. Dulu di wilayah ini berdiri rumah keluarga kesultanan Banjar. Di sini pula berdiam sejumlah keluarga Sayyid (Habib) yang ada di Banjar. Antara lain dari marga Assegaf, Alaydrus, dan AlKaff.

Selain Habib Ci (Muhammad), Salim masih memiliki seorang putra bernama Abdullah. Anak-anak keturunan Abdullah saat ini juga tinggal di Banjarmasin.

Muhammad memiliki putra bernama Alwi yang juga kelahiran Barabai. Alwi (telah almarhum) memiliki istri yang juga bermarga AlKaff. Syarifah Fetum, berusia sekitar 70 tahun, kini tinggal bersama putranya yang bernama Ibrahim.

Dari jalur ayah dan ibunya, Ibrahim memiliki darah AlKaff murni. Kakek Ibrahim dari jalur ibu adalah Husin bin Hamid bin Alwi AlKaff. Hamid berasal dari Palembang yakni di wilayah 10 Ilir. Hamid datang merantau dari Palembang ke Banjarmasin.

Sehari-hari Ibrahim bersama ibunya menunggui kios kecilnya di depan rumah mereka di Sungai Mesa. Yang menarik dari karakter Ibrahim adalah ia mengatakan sesuatu apa adanya. “Ana yang haq saja,” katanya.

Mungkin karena mewarisi ke-AlKaff-an leluhurnya, Ibrahim memiliki pengetahuan yang cukup tentang persoalan tertentu seperti sejarah dan hukum. Juga ketika disinggung tentang leluhurnya yang bernama Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Ketika berbicara tentang Lailatul Qadar, Ibrahim menyitir ucapan Imam Ali bahwa sebaik-baiknya kedudukan adalah orang yang ikhlas. Orang yang ikhlas akan menjadi kekasih-Nya.
NB: Salim bukan pulang ke Palembang tapi tetap di Barabai. Beliau meninggal dunia di Barabai dan bermakam di Keramat Manjang. Sebelum ke Barabai, Salim tinggal di Balimbingan, Kotabaru.

resource : algembira.blog.com

Categories: Uncategorized | Leave a comment
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.