Pahala Memberi Nafkah Isteri dan Anak

Pahala Memberi Nafkah Isteri dan Anak

Pemberian nafkah bagi istri dan anak memiliki pengaruh yang sangat baik bagi perkembangan pendidikan mereka. Ter­utama apabila nafkah tersebut digunakan dalam menjalankan syariat Islam. Dalam Al-Quran disebutkan, Hendaknya mereka yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya (QS At­ThalAq [65]: 7). Yakni tidak berlebihan, atau terlalu sedikit, atau kikir. Tapi berinfaklah sewajarnya, yaitu sesuai dengan batas kemampuan. Ini juga salah satu bentuk pendidikan kepada anak yang tengah mengalami perkembangan jiwa, di mana mereka akan melihat dan mulai mencoba memahami apa yang telah kita nafkahkan kepada mereka. Dan kita juga selaku orangtua agar berupaya untuk mendidik anak dengan mena­namkannya sikap untuk selalu hemat dan mengatur pengelu­aran rumah tangga dengan baik. Banyak hadis Rasulullah yang berkaitan dengan masalah infak dan besarnya pahala bagi mereka yang menjalankannya dengan ikhlas.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda, “Uang dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, uang dinar yang engkau nafkahkan untuk membebaskan hamba sahaya, uang dinar yang engkau sedekahkan pada fakir miskin, dan uang dinar yang engkau nafkahkan bagi keluargamu. Maka yang paling besar pahalanya adalah yang yang engkau nafkahkan bagi ke­luargamu.”

Dari Sa’ad bin Abi Waqash r.a. bahwasannya Nabi Saw. bersabda, “Sesungguhnya apabila engkau menafkahkan hartamu bagi keluargamu niscaya engkau akan mendapat pahala, walaupun itu hanya berupa sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu” (HR Abu Ya’la).”

Dari Abi Hurairah r.a. bahwasannya is bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Ya Rasulullah, shadaqah apa yang paling utama?” Rasulullah Saw. menjawab, “Shadaqah yang paling uta-ma adalah bersungguh-sungguh dalam memberi walaupun hanya sedikit, dan mulailah pemberianmu kepada orang yang menjadi tang­gunganmu.” (HR Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya jil. I, hlm. 414). Hadis ini sahib sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak mengeluarkannya. Adz­Dzahabi membenarkan pendapat ini. Hadis ini diriwayatkan juga oleh Ahmad dalam kitabnya jil II, hlm. 4 dan 94.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanadnya yang baik dari MiqdAm bin Ma’di Yakrab r.a berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Makanan yang engkau makan untuk dirimu sendiri ada­lah shadaqah. Apa yang kau berikan untuk anak-anakmu maka bagi­mu pahala shadaqah pula. Kamu memberikan makanan untuk istrimu maka bagimu pahala shadaqah, dan makanan yang kamu berikan untuk pembantumu, kamu mendapatkan pahala shadaqah pula.”

Abu Hanifah meriwayatkan pula dalam kitab Musnad-nya dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa di antara kamu meninggal dalam kesedihan (karena bekerja keras dalam mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga­nya), baginya di sisi Allah balasan yang jauh lebih baik dari seribu pukulan pedang dalam perang di jalan Allah.” Berkata Al-’Alamah Mula ‘Ali Al-Qari di dalam penjelasan hadis di atas: “Meninggal karena sedih dan lelah dalam mencukupi kebutuhan keluarganya yang merupakan fardhu ‘ain (kewajiban individu) dinilai lebih baik oleh Allah dibandingkan dengan seribu pukulan pedang dalam perang di jalan Allah.” Karena perang di jalan Allah merupakan fardhu kifayah (kewajiban yang apabila telah dikerjakan oleh sebagian kaum Muslim, maka gugurlah kewajiban tersebut bagi yang lainnya). Diriwayatkan juga dalam oleh Al-Qadha’i dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Na’im dalam kitabnya Al-Hilyah yang menga­takan, “Mencari nafkah yang halal adalah jihad.” Juga diriwayat­kan oleh Thabrani dari Ibnu Mas’ud mengatakan, “Mencari nafkah yang halal adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” Hadis di atas diriwayatkan pula oleh Ad-Dailamiy dari Anas. Sedang­kan Ibnu ‘Asakir meriwayatkannya dari Anas, “Barang siapa mati dalam keadaan letih karena mencari nafkah yang halal, Allah akan mengampuninya.”

Dari Ibnu ‘Umar r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Berdosalah mereka yang telah mengabaikan pemberian nafkah bagi keluarganya” (HR Al-Hakim.).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa suatu hari Rasulullah pergi ke luar rumah. Saat itu matahari baru saja terbit. Nabi Saw. mendatangi sekumpulan wanita yang sedang berdiam diri di sebuah masjid dan bersabda, “Wahai kaum wanita aku melihat beberapa kekurangan yang ada dalam diri kalian yaitu kurangnya akal dan agama. Aku pun melihat bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah berasal dari kaum kalian. Maka dekatkanlah diri kalian kepada Allah semampu kalian.” Dan tampak di antara kaum wanita ter­sebut istri Abdullah bin Mas’ud, maka bersegeralah ia mene­mui suaminya dan menceritakan apa yang telah didengarnya dari Rasulullah Saw. Kemudian istrinya mengambil perhiasan­nya. Ini menimbulkan keheranan Ibnu Mas’ud dan bertanya, “Hendak pergi ke mana dengan perhiasan itu wahai istriku?” Berkata istrinya, “Aku hendak mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dengan menginfakkan perhiasan ini.” Berkata Ibnu Mas’ud, “Adahui kamu, sedekahkan saja perhiasan itu padaku dan anakku. Karena kami berhak untuk mendapatkan sedekahmu.” “Tidak,” jawab istrinya, “sampai aku diberi izin oleh Rasulullah Saw.” Maka berangkatlah istri Ibnu Mas’ud menghadap Rasulullah untuk meminta izin mengenai diboleh­kan atau tidaknya ia memberikan perhiasannya pada suami­nya. Saat itu beberapa sahabat Nabi sedang berkumpul ber­sama beliau. Ketika melihat istri Ibnu Mas’ud hendak me­nemui Nabi Saw. mereka mengabarkan kedatangannya pada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, telah datang Zainab hendak meminta izin untuk menemui engkau.” “Zainab yang mana?” tanya Nabi. “Zainab istri Ibnu Mas’ud.” Beliau berka­ta, “Izinkan dia masuk.” Maka Zainab masuk menemui Nabi, dan berkata, “Wahai Rasulullah, pagi tadi aku telah mende­ngarkan nasihatmu. Kemudian aku kembali ke rumah dan menceritakan hal ini pada suamiku Ibnu Mas’ud, kemudian aku pun mengambil sebuah perhiasanku untuk aku sedekah­kan demi mendekatkan diri kepada Allah dan engkau dengan harapan Allah tidak menjadikan aku dari golongan penghuni neraka. Kemudian Ibnu Mas’ud meminta kepadaku untuk memberikan perhiasan itu padanya dengan mengatakan bah­wa dia dan anaknya berhak menerimanya. Namun aku katakan ‘tidak’ sehingga aku mendapatkan izin dari Rasulullah Saw.” Setelah mendengar keterangan Zainab tersebut Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Sedekahkanlah perhiasan itu padanya dan anaknya. Sebab mereka berhak menerimanya” (HR Ibnu Khuzaimah di dalam kitab Shahih-nya jil. IV, hlm. 106 dengan sanadnya yang sahib).

Dan dalam riwayat lain Rasulullah berkata kepada Zainab, “Ibnu Mas’ud suamimu berkata benar dan anakmu lebih berhak mendapatkan sedekahmu dari orang lain.” Dan dalam riwayat lain ditambahkan, “Benar, dan engkau mendapatkan dua pahala, pahala kekerabatan dan pahala shadaqah.”

[disadur dari Buku : Mendidik Anak Bersama Rasulullah. 1998 karangan Muhammad Nur Abdul Hafizh]
dicopas dari : http://www.pa-magelang.go.id/

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: