Pengertian Habib

Apa itu Habib atau Habaib?

Apa itu Syarifah?

Apa itu Sayyid?

Gelar-gelar sejak dulu digunakan pada adat istiadat dan tradisi di kepulauan Nusantara. Setiap raja memiliki gelar khusus. Demikian juga para pangeran, para pegawai tinggi, dan semua yang memiliki kedudukan. Gelar-gelar merupakan hal yang penting dalam istilah yang digunakan di masyarakat, sehingga kebanyakan orang tidak mengenal suatu pribadi kecuali gelarnya. Ada gelar-gelar yang dipakai secara turun temurun. Keturunan para sultan memiliki gelar, demikian pula keturunan para pangeran. Gelar-gelar itu banyak dan bermacam-macam. Pada zaman Belanda, kesultanan memberikan suatu gelar bagi seseorang yang mengabdi padanya atau ingin mengabdi. Misalnya gelar raden.

Sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, dunia Islam juga memberikan sebutan dan gelar khusus kepada anak cucu baginda Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam.

Di Mesir, anak cucu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam yang berasal dari cucu beliau Al-Hasan maupun Al-Husain disebut Syarîf (bentuk jamaknya adalah Asyrâf) untuk laki-laki dan untuk perempuan Syarifah.. Sedangkan di luar Hijâz sebutan Syarîf hanya diperuntukkan bagi anak cucu Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam yang berasal dari Al-Hasan dan sebutan Sayid (bentuk jamaknya adalah Sâdah) bagi anak cucu beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam yang berasal dari cucu beliau Al-Husain.

Di dalam bukunya yang berjudul Tuanku Rao, Prof. Dr. Hamka menuliskan bahwa Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam tidaklah meninggalkan putra lelaki. Tetapi, putri beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam, Siti Fâthimah mempunyai dua orang putra dari perkawinannya dengan ‘Alî bin Abî Thâlib radhiyallâhu ‘anhu. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam sangat menyayangi kedua cucunya ini hingga beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam selalu menyebutnya dengan kata ‘Anakku’. Beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam pernah berkata tentang Hasan, “Anakku ini Sayid dan kelak akan mendamaikan dua kelompok yang sedang bertikai.” Perkataan ini kemudian terbukti, yaitu ketika beliau menyerahkan kekuasaan yang ada padanya kepada Mu’âwiyah. Tahun itu kemudian dinamai tahun berkumpulnya kembali, ‘Âmul Jamâ’ah.

Tentang cucunya yang kedua, Husain, Beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa shahbihi wa sallam berkata, “Anakku ini akan menjadi Sayid (tuan) para pemuda Surga kelak.” Kedua Hadis ini Sahih. Oleh karena itu, maka menjadi tradisilah orang memberikan gelar “Sayid” kepada keturunan Hasan dan Husain itu di seluruh Dunia Islam, demi menghormati Hadis Nabi tersebut.

L.W.C. Van Den Berg menyebutkan bahwa para Sayid tersebut mendapat gelar Habîb (jamaknya: Habâib) artinya yang kami cintai, dan anak perempuan mereka bergelar Habâbah. Gelar Habîb ini di Hadhramaut mulai berlaku pada abad 11 H hingga sekarang.

Wallahu a’lam.
sumber : http://www.taman-ilmu.com – majlisdzikrullahpekojan.org

Categories: Uncategorized | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: